Ketika orang tua memperlakukan emosi anak sebagai hal yang tidak penting, tidak valid, berlebihan, atau kurang penting dibanding masalah lain, mereka mengabaikan anak secara emosional.
Mereka lupa bertanya, "Kenapa nangis, nak?" "Sayang, kenapa kamu takut?" Atau "Apa yang membuatmu marah, nak?" Tapi langsung memotong mereka dengan, "Nggak perlu ada yang ditangisi.", "Anak laki-laki harusnya nggak boleh cengeng.", "Cantik-cantik, masa marah?". Mereka lupa, bahwa sebenarnya anak tidak menginginkan pengabaian perasaan, melainkan penerimaan.
Ketika orang tua tidak memperhatikan, menghargai, atau menanggapi emosi kita, atau mereka mempertanyakan emosi kita ketika kita mengungkapkannya, mereka secara tidak sengaja mengirim pesan kepada kita bahwa perasaan kita tidak penting atau ada yang salah dengan perasaan kita.
Untuk mengatasinya, kita belajar mengubur perasaan kita atau mengubah emosi yang "tidak dapat diterima" seperti kemarahan menjadi emosi yang "dapat diterima" seperti kecemasan.
Pengabaian emosional yang kita alami di masa kanak-kanak dapat berdampak hingga kita dewasa, beberapa tandanya antara lain:
• Kamu takut mengandalkan orang lain. Kamu menolak tawaran bantuan, dukungan, atau perhatian.
• Kamu mengalami kesulitan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahanmu, apa yang kamu suka dan tidak suka, serta tujuan hidupmu.
• Kamu lebih keras kepada diri sendiri daripada kepada orang asing, sulit berbelas kasih pada diri sendiri dan sulit memiliki pemahaman diri.
• Kamu mudah kewalahan dan cepat menyerah.
• Kamu dengan mudah menyalahkan diri sendiri, mengarahkan kemarahanmu ke dalam dirimu, atau merasa bersalah/malu tentang kebutuhan atau perasaanmu sendiri.
• Kamu merasa mati rasa, kosong, atau terputus
dari emosimu, atau kamu merasa tidak mampu mengelola atau mengekspresikannya.
Kamu memiliki self-esteem yang rendah.
• Kamu sangat sensitif terhadap penolakan.
• Kamu yakin bahwa ada sesuatu tentang dirimu yang salah meskipun kamu tidak dapat menyebutkannya secara spesifik.
Jika tanda-tanda tersebut terdengar familiar bagimu, dan kamu pikir kamu mungkin menjadi korban pengabaian emosional masa kanak-kanak, ada beberapa hal yang dapat kamu lakukan untuk menyembuhkannya.
1. Belajar mengenali dan memvalidasi emosi diri
sendiri. Jika di masa kanak-kanak orangtua kita memperlakukan emosi kita seolah-olah tidak valid atau tidak penting, maka sekarang saat dewasa kitalah yang perlu bertanggungjawab atas perlakuan kita pada emosi kita sendiri. Kita bisa belajar untuk mulai mendengarkan apapun yang perasaan kita ingin sampaikan.
2. Identifikasi kebutuhanmu dan minta orang lain
untuk memenuhinya jika dibutuhkan. Kamu berhak agar kebutuhanmu terpenuhi sama seperti orang lain. Mulailah dari yang kecil dengan meminta hal-hal yang mudah dicapai. Misalnya, mintalah pelukan dari sahabat atau pasangan saat kamu sedih, atau untuk beberapa saat hening saat kamu pulang kerja setelah seharian bekerja keras.
3. Cari terapis/bantuan tenaga profesional.
Terapis yang baik dapat membantu mengidentifikasi emosimu, menanyakan apa yang kamu butuhkan, belajar memercayai orang lain, membangun self- esteem, menangani penolakan, membangun self- love, dan banyak lagi.
Komentar
Posting Komentar